Harga Karet Naik Lagi ( Harapan Masyarakat ) di Tahun Agustus 2021
Virus Korona adalah salah satu Penghalang Naiknya Harga Karet Rakyat ..
Sejarah dan Perkembangan Karet Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada beberapa jenis tumbuhan, dengan ciri umumnya yaitu berwarna putih. Karet pertama kali dikenal di Eropa, yaitu sejak ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus pada tahun 1476. Orang Eropa yang pertama kali menemukan ialah Pietro Martyre d’Anghiera yang dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul De Orbe Novo (Edisi 1530). Pada tahun 1730-an, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan (karet) tersebut, hingga akhirnya Charles Goodyear pada tahun 1838 menemukan cara dengan dicampurkannya belerang kemudian dipanaskan maka karet tersebut menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca. Sebagian besar ilmuwan sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi.
Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya disebut sebagai awal dari perkembangan industri karet. Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali diperkenalkanpada waktu masih jajahan belanda oleh Hofland pada tahun 1864. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi dan selanjutnya dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Jenis yang pertama kali diuji cobakan adalah species Ficus elastica atau karet rembung. Jenis karet Havea brasiliensis baru ditanam di Sumatera bagian timur pada tahun 1902 dan di Jawa pada tahun 1906. (Tim Penebar Swadaya, 2008). Sejarah karet di Indonesia mencapai puncaknya pada periode sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956. Pada masa itu Indonesia menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Namun sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya mutu produksi karet.
Asisten Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Nur Ahmadi mengatakan, rata-rata setiap bulan harga menurun hanya per sekian rupiah.
Seperti di bulan Desember 2020 lalu, harga karet mencapai Rp 14.097 per Kilogram (Kg). Namun kini, harga karet merosot di angka Rp 13.924 per Kg, untuk kondisi Kadar Karet Kering (KKK) 70 persen.
Di sebapkan semenjak masuknya Viru Korona ke Indonesia, semenjak itula karet berangsur angsur angsur menurun.
Untuk harga karet juga, tergantung dari kadarnya yang setiap harinya berbeda-beda. Ada KKK dari 40-70 persen hingga 100 persen.
Ini karena pasar uang internasional, permintaan konsumen, dan tersedianya karet. Tapi stok karet di Sumsel selalu ada setiap hari,” ucapnya,
Dia mengatakan, kualitas karet ekspor atau Standar Indonesia Rubber (SIR), telah melalui proses pengolahan di pabrik.
Gapkindo Sumsel sendiri, menaungi 29 unit pabrik di Sumsel. Selain di Sumsel, ada juga di Bangka Belitung.
“Kami sebagai asosiasi yang ditunjuk, untuk mengurusi karet Indonesia, khususnya di wilayah Sumsel,” katanya.
“Harga tersebut tergantung khususnya di Bursa Singapore Comodity (SICOM). Setiap hari harga bisa naik atau turun,” katanya di Palembang Sumsel.
Menurutnya, ada enam faktor yang mempengaruhi harag karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar rupiah terhadap dollar, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam dan suplay dan demand di pasar karet internasional.
Lalu, perkembangan industri berbahan baku karet, faktor cuaca dan hama penyakit, serta permainan spekulan di Pasar Berjangka International.
“Sejak masa pendemi Covid-19, harga di pasar internasional mendapat harga keseimbangan baru, suplay sama dengan demand,” ujarnya.
Salah satunya karena permintaah industri hilir berbahan baku karet yang menurun. Serta produksi karet dari negara produsen yang juga menurun. Ini merupakan dampak dari penyakit gugur daun tahun lalu yang belum pulih dan cuaca ekstrim di negara produsen karet.
“Untuk Sumsel harga FOB Rp18.000 - Rp19.000 per Kg untuk KKK 100 persen sudah cukup baik. Itu berlangsung sejak pekan kedua pada Oktober, sampai pekan ketiga pada Februari 2021,” katanya.
Di tingkat kelembagaan Petani UPPB, harga saat ini berfluktuasi antara Rp9.000 - Rp 11.000 per Kg untuk karet mingguan, dengan KKK antara 50 persen hingga 60 persen.
Sedangkan di luar UPPB, sekitar 75 persen dari jumlah petani karet di Sumsel, hanya menikmati harga Rp 6.000 - Rp8.000 per kg. Hal tersebut karena kualitas KKK hanya sebesar 50 persen.
“Itu karena umur simpan bokar mereka tidak sampai satu pekan. Biasanya umur 2-3 hari sudah mereka jual, karena kebutuhan rumah tangga yang mendesak. Bahkan ada kebiasan petani, merendam karet ke dalam kolam serta tidak menjaga kebersihan karet dari tatal dan tanah,” katanya.
..
Semoga harapan masyarat bias cepat – cepat teratasi, dan segera naik tinggi berkisar 15000 s/d 18000 per kilogram karet di tahun agustus 2021 ini.




Komentar
Posting Komentar